Sejarah Gereja Umum
LAPORAN BACAAN
Nama : Jernih Budiyanti Farasi
Semester : III (Tiga)
Mata Kuliah :
Sejarah Gereja
Dosen : Dr. Yonas Muanley, M. Th
___________________________________________________________________________
SEJARAH
GEREJA MULA-MULA
Arti Sejarah
Gereja
Beberapa teolog mendefinisikan arti kata Gereja sebagai berikut: (1)
Kata Gereja berasal dari kata dalam bahasa Portugis “igreja”, yang berasal dari
kata Yunani “ekklesia” yang berarti: mereka yang dipanggil. (2) Istilah Yunani
“ekklesia” dibentuk dari kata ‘ek’ (=dari) dan ‘kaleo’ (=memanggil), yaitu
‘mereka yang dipanggil keluar’. Dalam Perjanjian Baru istilah ‘ekklesia’
diapakai 115 kali, 10 kali dalam arti Gereja secara menyeluruh (misalnya Mat.
16:18) dan selebihnya dalam arti “Gereja lokal” atau “jemaat setempat”
(misalnya Mat. 18:17).
Jadi kata ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Baru mempunyai arti (1)
Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari kehidupan yang lama dan keluar
dari kuasa Iblis, dipanggil Allah sendiri, dipindahkan ke dalam kerajaan Allah-terjadi
perubahan status dan pola hidup. (2)
Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari hidup bagi diri sendiri dan
dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan melayani
Tuhan-perubahan tujuan hidup dan pandangan dasar.
Ayat-ayat dalam PB yang memakai kata ‘ekklesia’: 1 Kor.12:13; Mat.16:18;
1 Kor. 15:9; Gal.1:13; Flp.3:6 Kol.1:18; 1 Kor.12:28; Ef.3:10, yang berarti
sekelompok orang yang terpanggil, sebagai suatu majelis warga negara dari suatu
negara yang mandiri, namun PB memberi arti rohani dari kata ekklesia yaitu
sekelompok orang yang dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa.
Dari kajian tentang Gereja dan sejarahnya maka perlu diinsafi hal
berikut ini: Gereja ada karena Yesus memanggil orang menjadi pengikut-Nya. Maka
Gereja mempunyai wujud yaitu persekutuan dengan Kristus dan persekutuan dengan
manusia lain dan persekutuan dalam melaksankana amanat-Nya yaitu pekabaran
Injil (Mat. 28:19, Kis. 1:8)
Berdasarkan definisi atas dua kata, sejarah dan Gereja seperti tersebut
di atas maka berikut ini akan dirumuskan pengertian dari kata “Sejarah Gereja”.
Ternyata pengertian tentang Sejarah Gereja, yaitu uraian empiris dan
penilaian teologis. Dengan kata lain kajian teoritis-teologis dari para teolog
tidak sama dalam pemberian definisi. Artinya ada banyak definisi tentang
Sejarah Gereja. Keragaman definisi ini disebabkan karena filosifi dari para ahli tersebut.
Dengan kata lain filosofi para ahli mempengaruhi rumusannya tentang Sejarah
Gereja. Ada yang merumuskan pengertian Gereja berdasarkan uraian empiris dan
ada pula dengan penilaian teologis. Ini perlu dikemukakan supaya para mahasiswa
tidak bingung melihat keanekaragaman definisi tersebut.
SEJARAH
GEREJA ABAD PERTENGAHAN (590-1492/1500)
Gereja Abad
Pertengahan
Setelah Kaisar Theodosius Agung meninggal, sekitar tahun 400,
kekaisaran Romawi dibagi menjadi dua, yaitu Romawi Barat berpusat di Roma dan
Romawi Timur berpusat di Konstantinopel. Kekaisaran Romawi Barat runtuh tahun 476 karena
dihancurkan oleh suku bangsa German. Suku bangsa Frank menduduki Perancis, Suku bangsa Angelsaksis
Inggris, dan seterusnya.
Bangsa-bangsa ini mendirikan negara-negara baru, yang kemudian hari
disebut: Perancis, Inggris, Jerman dan negeri-negeri Skandinavia. Di Eropa Timur, bangsa-bangsa
Slav juga mendirikan beberapa negara: Rusia, Polandia dan seterusnya. Jadi, secara asasi pada
zaman itulah lahir negara-negara Eropa yang masih ada sampai sekarang.
1.
Penginjilan di Eropa
Mayoritas bangsa-bangsa German dan Slav menganut agama-agama Suku
(Politeis). Wilayah
Perancis dan Inggris, yang sudah masuk Kristen sewaktu masih merupakan
provinsi-provinsi kekaisaran Romawi, sebagian harus dikristenkan kembali. Di Rusia dan Eropa Utara
dan Tengah, sama sekali belum ada usaha pekabaran Injil. Sekitar tahun 1000,
hampir seluruh Eropa sudah masuk Kristen.
Pada masa itu juga, Paus-paus berhasil menjadi penguasa duniawi di
suatu daerah di Italia Tengah, yang biasa disebut Negara Gereja. Ibu kota
Negara itu Roma. Negara-negara itu berdiri terus sampai tahun 1870, ketika dicaplok
Kerajaan Italia. Tetapi sebagaian kecil Kota Roma di sekitar Gereja Santo Pertus
tetap merupakan Negara berdaulat (Kota Vatikan), lengkap dengan aparat
diplomatiknya Kepala Negaranya ialah Paus.
1.
Sikap dan cita-cita
Gereja Barat Menghadapi Dunia
Gereja bersikap menguasai dunia atau menjadi lembaga pembimbing
dan pengatur dunia (hidup kenegaraan dan kemasyarakatan). Pada pihak lain, banyak
orang Kristen yang menarik diri dari dunia.
Cita-cita Gereja Abad Pertengahan, yaitu untuk menjadi lembaga yang membimbing dan
mengatur dunia. Hal ini menyebabkan pergumulan yang hebat antara Gereja dan
dunia, yakni negara dan masyarakat. Mula-mula Gereja dikuasai oleh Negara (500-1000). Kemudian Gereja
melepaskan diri dari negara (1000-1150), seterusnya Gereja berusaha berdiri
sendiri menjadi pembimbing dan pengatur negara (1200-1300). Akhirnya kekuasaan
Gereja merosot lagi.
2. Gerakan Kerohanian Orang
Kristen Eropa abad Pertengahan
Ketika Paus berusaha menghimpun kekayaan (menguasai dunia) maka ada
orang-orang dari kelompok orang-orang kaya meninggalkan kekayaan mereka dan
mencari suasana rohani. Orang-orang yang dimaksud, seperti:
Petrus Waldes (1175): Berasal
dari Perancis, ia adalah orang kaya. Ketika bercakap-cakap dengan temannya, temannya mati seketika. Hal
ini membuat Waldes amat kaget. Beberapa waktu kemudian ia mendengar ada
penyanyi keliling memaw cerita tentang seorang muda yang memberikan seluruh
hartanya kepada orang miskin, lalu pergi mengemis ke rumah orangtuanya tanpa
dikenali
orangtuanya. Itulah petunjuk bagi Waldes. Kemudian Waldes membagi kekayaannya
kepada orang miskin, kecuali sebagian yang dipakai untuk membiayai penerjemahan
Injil ke dalam bahasa daerahnya. Lalu ia berkhotbah di mana-mana.
Fransiscus adalah anak seorang
saudagar kaya. Pada waktu ia bertemu dengan seorang pengemis, Franciscus
memberikan seluruh pakaian yang ada padanya. Dan pada waktu bertemu dengan
orang berpenyakit kusta, ia pun terdorong untuk memeluk orang kusta tersebut.
Namun karena Franciscus memboroskan harta orangtuanya untuk orang-orang miskin
maka ia ditolak oleh ayahnya sebagai ahli waris. Kemudian Franciscus pergi ke
luar kota dan memperbaiki gedung Gereja yang sedang runtuh. Ia membangun Gereja
dengan jalan minta-minta.
Franciscus mempunyai semangat
cinta kasih yang besar kepada Kristus, tetapi juga cinta kasih kepada seluruh makhluk. Ia
pernah berkhotbah kepada burung-burung, yang mendengarkannya dengan berdiam
diri. Suatu hari ia mendamaikan penduduk salah satu kota dengan seekor serigala
yang ganas, yang biasanya menyerang kawanan domba-domba kota itu. Pernah
Franciscus mau menyiksa tubuhnya dengan menghempaskan diri ke semak-semak duri,
selaku latihan askese, akan tetapi semak duri itu mengisut, tidak melukai dia.
Pada waktu tubuhnya ditandai
dengan ‘stigma’, yaitu bekas luka-luka pada tangan dan kaki Kristus yang
disalibkan itu tampak juga pada kaki dan tangan Franciscus. Dominikus,
seorang Spanyol. Terharu juga oleh kemiskinan orang, lebih-lebih kemiskinan
rohani dari mereka yang dibujuk bidat. Dominikus mau menjadi miskin supaya orang-orang
yang seperti kaum Waldens, melawan kekayaan uskup-uskup, lebih percaya kepada
pemberitaannya.
Teologi
Abad Pertengahan (590-1500)
Teologi Skolastik: penyelarasan ajaran Gereja dengan filsafat
Yunani. Karangan-karangan dari Filsuf Yunani, seperti: Plato dan Aristoteles. Tokoh
terkemuka dari Teologi Skolastik adalah Thomas dari Aquino (1225-1274). Pola pemikiran Thomas
Aquino dapat dilihat dalam cara ia membahas hubungan antara rahmat Allah dan
kemampuan manusia untuk berbuat baik.
Teologi Skolastik dari Thomas Aquino ini paling
digemari oleh Gereja Katolik Roma, yang berimplikasi pada penekanan perbuatan
baik untuk memperoleh keselamatan pada abad pertengahan. Perayaan sakramen Misa
(Ekaristi) merupakan ibadah yang sebenarnya: khotbah, pemberitaan Firman Tuhan
bersifat pendahuluan untuk misa.
Kepercayaan Abad Pertengahan
Gereja Abad Pertengahan sesuai dengan ajaran Gereja, meyakini bahwa Allah
adalah ‘Hakim Yang Adil’ yang mengadili manusia sesuai dengan perbuatannya. Allah (Yesus Kristus)
diyakini terlalu tinggi untuk dapat dijangkau oleh kaum awam oleh karena itu
Gereja sebagai perantara, khususnya santo.
Kepercayaan akan api penyucian atau Purgator. Santo sebagai perantara
karena Allah terlampau tinggi sehingga harus ada perantara, khususnya Maria. Sehubungan dengan
kepercayaan terhadap santo itu, maka beragam peninggalan orang suci itu menjadi
benda pemujaan, misalnya tulang, rambut, pakaian dll.
Cara Percaya yang Lain di Akhir Abad pertengahan
Bernhard dari Clairvaux: mencari Tuhan dengan jalan mistik
(kebatinan). Wyclif
dan Hus: mencari Tuhan dengan jalan mendengarkan Firman-Nya dan mengkritik
teologi dan kepercayaan yang resmi dengan bertolak dari firman itu (mereka ini
adalah perintis-perintis Reformasi). Kaum Humanis (Erasmus): mencari Tuhan dengan cara kembali kepada
suasana Gereja Lama, dan kritiknya terhadap teologi dan kepercayaan yang resmi
bertolak dari suasana itu (kaum humanis).
Salah
satu semboyan kaum humanis adalah: kembalilah kepada sumber-sumbermu. Mereka
berusaha melihat kitab suci bukan dari terjemahan Vulgata (Terjemahan Alkitab
dalam bahasa Latin) tetapi langsung melihat teks kitab suci dalam bahasa asli
yaitu Ibrani dan Yunani. Jadi Kaum Humanis memberi kontribusi dalam penelitian kebenaran
berdasarkan sumber asli (teks asli) bukan dari terjemahan-terjemahan. Sebab
terjemahan-terjemahan bisa salah.
REFORMASI GEREJA OLEH MARTIN LUTHER
Pendahuluan
Reformasi
gereja bukan merupakan hal yang baru lagi dalam lingkungan Kristiani terlebih
ddalam kalangan Kristen Protestan. Bila berbicara tentang reformasi maka tidak
akan terlepas dari pengaruh Renaisanns (abad pencerahan) dan humanisme yang terjadi
di Eropa. Keduanya memberi aspirasi baru bagi kehidupan manusia hingga saat
sekarang.
Renaisanns
yang terjadi pada akhir abad 14-17 dan puncaknya pada tahun 1500 telah membawa
banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Manusia mulai melihat kembali siapakah
dia yang sebenarnya, sehingga manusia mulai keluar dari kehidupannya yang
sebelumnya. Pada masa ini juga mulai muncul bahasa Jerman (bahasa nasional).
Ada beberapa penyebab berkembangnya Renaissans ini, yaitu:
1.
Asimilasi pengetahuan dan kebudayaan Yunani dan Arab
2.
Struktur sosial dan politik Italia bukan sebagai suatu
kesatuan politik lagi melainkan negara-negara kecil dan wilayah yang memiliki
kebebasan politik, dan
3.
Kematian hitam, dimana orang mulai tidak percaya pada
agama sehingga ilmu pengetahuan mulai dikembangkan di Eropa. Reinassans
mempengaruhi reformasi karena pada zaman renaissans mulai muncul
percetakan-percetakan yang membantu para reformator.
Humanisme
merupakan aliran yang bertujuan untuk menghidupkan rasa peri kemanusiaan dan
mencita-citakan pergaulan hidup yang baik, sehingga menganggap manusia sebagai
obyek studi terpenting. Humanisme juga merupakan perkembangan dari Reinassans
atau cabang dari Renaissans. humanisme memberi perhatian pada masalah-masalah
dan nilai-nilai yang menjadi prinsip bagi kehidupan bersama umat manusia. Yang
diutamakan pada humanisme adalah kebahagiaan setiap individu. kebahagiaan
setiap individu merupakan nilai yang paling tinggi. Prinsip-prinsip humanisme
ini pula yang mempengaruhi akan reformator sehingga mereka pun melakukan
reformasi terhadap gereja.
Reformasi
itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perubahan radikal untuk
perbaikan dalam suatu masyarakat atau agama, baik itu dalam bidang politik,
sosial, maupun agama. Istilah reformasi secara langsung memberikan kesan bahwa
kekristenan Eropa Barat sedang diperbaharui. Namun Reformasi gereja yang
dimaksud pada awalnya merupakan suatu gerakan yang ingin memperbaiki hal-hal
tertentu saja dalam Gereja Katolik.[1] Oleh
karena keinginan yang begitu besar untuk memperbaiki akan hal-hal yang
dianggap salah dalam gereja, maka muncullah tokoh-tokoh
reformator, seperti Marthin Luther dan Yohanes Calvin. Namun sebelum kedua
tokoh ini sudah ada dua tokoh yang terlebih dahulu ingin merubah beberapa hal
dalam gereja. kedua tokoh itu adalah John Wicliff dari Inggris (1328-1384) dan
John Huss dari Ceko (1369-1415). Namun kedua tokoh ini tidak berhasil dalam
melakukan perubahan dalam gereja karena tidak mendapat dukungan dari siapapun.
Perjuangan mereka dilanjutkan oleh Marthin Luther dan Yohanis Calvin. Namun
yang dibahas dalam paper ini merupakan reformasi yang dilakukan oleh Marthin
Luther.
Latar Belakang Reformasi
Reformasi
gereja yang terjadi di Eropa Barat tidak dapat terlepas dari keadaan masyarakat
Eropa Barat dan organisasi gereja-gereja yang ada pada saat itu. Dalam struktur
hierarki gereja, hierarki paling tinggi adalah Paus yang berdomisili di
Basilica St. Petrus (Roma). Oleh karena itu, Paus memiliki wewenang yang begitu
besar dalam gereja namun wibawanya mulai berkurang. Paus yang ingin menyatukan
seluruh orang Kristen dibawah kepemimpinannya pun mulai
pudar. Setiap raja-raja dan kaisar-kaisar ingin menguasai daerah
pemerintahannya sendiri, begitupun gereja-gerja yang ada dalam wilayah
kepemimpinannya.
Pada saat
itu pula perekonomian di Eropa sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat
sehingga sistem sosial yang ada sebelumnya tidak cocok lagi dengan kenyataan
yang ada pada saat itu.[2]Oleh
karena perkembangan ini, masyarakat mulai kritis pada keadaan yang ada dan
berlaku dalam masyarakat. Gereja menjadi sasaran empuk yang dikritisi oleh
masyarakat karena gereja merupakan salah satu tiang penyangga bagi masyarakat
pada saat itu. Selain itu, dalam kebudayaan Eropa secara umum mulai muncul
keinginan untuk mempelajari akan kebudayaan Yunani dan Romawi
sehingga orang-orang ingin kembali pada dunia kebudayaan kuno
mereka. Sikap ini juga yang mempengaruhi akan munculnya reformasi
karena mereka terdorong untuk mempelajari Alkitab dalam bahasa asli karena
sebelum munculnya perkembangan ini, masyarakat hanyalah robot yang
diperintahkan oleh para rohaniawan karena Alkitab yang digunakan pada saat itu
berbahasa Latin sehingga yang mengerti akan isi Alkitab itu hanyalah Paus dan
rohaniawan. Oleh karena itu, banyak jemaat yang sudah bosan dengan kaum
rohaniawan yang hanya mementingkan akan kepentingan mereka sendiri tanpa mau
memperhatikan akan jemaatnya.
Selain krisis
kepausan yang melatar belakangi munculnya reformasi, ternyata pada saat itu,
muncul pula krisis rohani di tengah jemaat. Banyak orang mencari pengalaman
yang bersifat mistik. Namun ada juga (khususnya rakyat sederhana) yang
menyatakan kesalehannya dengan hal-hal yang berbau lahiriah seperti
penghormatan kepada santo dan santa, berziarah ke tempat-tempat yang dianggap
kudus dan juga mengadakan misa bagi orang-orang yang telah meninggal.[3] Karena
pernyataan kesalehan yang seperti ini, banyak orang yang berpendidikan
menganggap itu sebagai ketakhayulan. Gereja pun tidak mampu menjawab akan
kebangkitan rohani yang terjadi dalam Gereja.
Gereja sibuk
memikirkan akan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan rohani jemaat. Gereja
hanya memikirkan akn teologi-teologi yang berkembang pada saat itu,
terjebak dalam diskusi-diskusi skolastik. Selain itu, pelayan-pelayan dan
pemimpin-pemimpin gereja hanya mementingkan akan hal-hal yang bersifat
organisatoris saja. Oleh karena itu, jemaat menganggap bahwa organisasi
merupakan penghalang bagi pertumbuhan rohani jemaat, sehingga banyak orang
(jemaat) merindukan akan gereja yang mementingkan akan Iman Kristen yang sesuai
dengan Alkitab, seperti pada masa para Rasul dan juga tulisan-tulisan bapa-bapa
kuno, seperti tulisan dari St. Augustinus. Karena sifat mementingkan diri dari
para pemimpin dan pelayan Gereja, maka tampillah tokoh reformator (Martin
Luther) yang ingin merubah akan sistem yang ada dalam gereja
secara radikal untuk merubah sistem-sistem yang salah dalam gereja
·
Martin Luther
Martin
Luther berasal dari keluarga sederhana, yaitu keluarga petani yang tinggal di
negeri Thüringen. Namun karena menginginkan penghidupan yang lebih layak orang
tuanya pindah ke Eisleben dan menjadi penggali tambang tembaga di sana.[4] Ayahnya
bernama Hans Luther dan ibunya bernama Magdalena Lindemann. Martin Luther lahir
pada tanggal 10 November 1483 dan pada keesokan harinya ia dibaptis di gereja
Petrus dan ia diberi nama sesuai dengan nama Santo pada saat itu yaitu St.
Martinus dari Tours, sehingga ia diberi nama Martin. Martin Luther dididik
menurut cita-cita agama zamannya karena orang tuanya pun dikenal sebagai
keluarga yang setia pada gereja Katolik Roma. Karena didikan yang sedemikian
rupa pula yang membuat Luther ketakutan bila mendengar nama Kristus karena dia
memandang Kristus sebagai seorang hakim yang keras dan pemurka.[5]
Martin
Luther dikenal sebagai murid yang pandai. Oleh karena itu, ayahnya mengirimnya
ke sekolah menengah di kota Magdeburg untuk mendapat pendidikan yang baik.
Luther dan teman-temannya memiliki kebiasaan menyanyi di lorong-lorong kota
untuk mencari nafkah. Oleh karena sering menyanyi itu pun sehingga Luther
dikenal sebagai seorang yang berbakat dalam bidang musik. Pada umur 17 tahun
Luther lulus pada sekolah menengah dan memasuki universitas di Erfurt. Ayahnya
sangat menginginkan Luther menjadi seorang ahli hokum. Oleh karena itu, Luther
perlu mempelajari ilmu filsafat terlebih dahulu. Karena mempelajari ilmu filsafat,
Luther pun harus mempelajari theology scholastic, yang pada saat itu masih
menguasai universitas di Erfurt. Namun filsafat dan teologi skolastik tersebut
dibuangnya namun pandangan Occam mempengaruhi akan pikirannya dalam beberapa
hal.
Pada
tahun 1505, Martin Luther lulus dalam ujian dengan gelar magister artes sehingga
ia diperbolehkan untuk menuntut ilmu hukum, namun secara tiba-tiba terjadi
perubahan besar dalam diri Luther. Dalam perjalanannya menuju rumah orang
tuanya, ia ditimpa hujan deras dan disertai guruh dan halilintar yang
membuatnya sangat ketakutan. Ia pun meminta kepada St. Anna[6] untuk
menolongnya dengan memberikan janji bahwa ia akan menjadi rahib. Luther memang
menepati janjinya. Dua minggu kemudian ia masuk biara yang memiliki aturan yang
begitu keras, yaitu ordo Eremit Augustin. Keinginan Martin untuk menjadi rahib
sangat membuat ayahnya terpukul dan kecewa. Teman-temannya pun tidak menyetujui
ia menjadi rahib karena mereka akan kehilangan seseorang yang berbakat dalam
musik. Ayahnya sangat marah terhadapnya karena ia tidak mengabulkan permintaan
ayahnya supaya ia menjadi ahli hukum.
Namun Martin
tetap mempertahankan akan niatnya karena dalam pikiran Martin, jika seseorang
ingin mengorbankan sesuatu untuk Allah maka ia harus mengorbankan sesuatu yang
paling indah dan molek bagiNya.[7] Selama
16 tahun ia tidak berhubungan dengan ayahnya karena ayahnya masih marah dan
kecewa terhadapnya. Namun pada akhirnya pula konflik diantara mereka bias
dipadamkan. Nazarnya yang hanya sesaat itu boleh dikatakan sebagai pengalaman
batinnya. Dalam biaranya ia berharap mendapat damai bagi jiwanya yang takut
akan maut dan neraka karena itulah hal yang selalu dicari-carinya.
Dalam biara
Augustin itu, Martin dikenal paling cakap diantara rahib-rahib yang seangkatan
dengannya. Para pemimpin-pemimpin biara Augustin pun menyuruhnya untuk menuntut
ilmu teologi. Sehingga pada tahun 1507 ia ditahbiskan menjadi imam dan pada
tahun berikutnya ia dikirim ke Wittenberg untuk meneruskan akan studinya, yaitu
studi teologi. Namun pada tahun ia kembali ke Erfurt untuk memberikan pelajaran
tentang dogmatik di situ.
Pada tahun
1510 Luther dikirim ke Roma sebagai utusan dari ordo Augustin untuk memecahkan
persoalan mengenai aturan-aturan dalam ordo Augustin itu. Kesempatan ini tidak
disia-siakan oleh Martin karena ia berpikir bahwa ketenangan batin yang selam
ini ia cari akan ia dapatkan di sana, mengingat Roma merupakan pusat agama
Kristen pada waktu itu. Karena keinginannya yang begitu besar untuk
mencari kedamaian baginya, maka ia pun mengikuti setiap ritual suci di Gereja
St. Petrus. Ia pun menaiki setiap tangga gereja dengan lututnya dan berdoa Bapa
Kami untuk para nenek moyangnya yang telah meninggal. Doa ini menurut aturan
pada saat itu adalah untuk melepaskan mereka dari siksa yang masih dialaminya
di dunia seberang sana. Namun ketika ia menaiki anak tangga yang terakhir, ia
mempertanyakan akan tindakan yang ia lakukan itu. Benar atau salahkah. Akhirnya
ia pun mengambil suatu kesimpulan bahwa surat Penghapusan Siksa di
Purgatoriumlah yang merajai jemaat pada saat itu dan bukan bagaimana mengalami
anugerah Allah.[8]
Kembalinya
ke Wittenberg, dua tahun kemudian ia mencapai gelar “doctor dalam Kitab Suci”
dan diangkat menjadi guru besar dalam ilmu teologi di Wittenberg. Tugas
utamanya adalah menafsirkan Alkitab, dan sampai pada tahun 1517 ia menafsirkan
Kitab Mazmur dan surat-surat Paulus, seperti Roma, Galatia dan Ibrani. Pada
saat itu juga ia mengepalai akan kesebelas biara propinsinya dan harus
berkhotbah dan melayani jemaat di Wittenberg.
Ketika
Lutheranisme terancam krisis dan nyaris kehilangan day
tariknya,Calvin(1509-1564) mengambi alih kepemimpinan Reformasi di dalam Gereja
Kristus(pada pertengahan abad XVI ). Yohanes Calvin atau Jean Cauvin, lahir di
Noyon, piccardia(prancis), 10 juli 1509. Calvin, yang lebih muda 26 tahun
daripada Luther, adalah generasi kedua Reformis. Pada usia kanak-kanak ia sudah
ditinggal mati ibunya, sehingga ia tidak dapat menghindar dari pengaruh
pendidikan ayahnya yang keras cenderung kaku. Sang ayah kendati pernh bekerja
dperkantoran keuskupan, namun dia pernah melewatkan hari-harinya disebuah
penjara, bahkan dia meninggal dalam status diekskomunikasi oleh Gereja dan
kepada keluarganya diwariskan kewajiban melunasi utang-utangnya. Seorang
saudaranya juga diekskomunikasi lantaran berduel; dan meninggal dalam
permusuhan dengan Gereja berkenaan dengan masalah iman dan displin kegerejaan.
Calvin
menempuh formasi forma di Paris, dan mendapat pengaruh humanis dari lingkungan
Jacques Lefevre d’Etaples(atau Faber Stapulensis,1455-1536). Pada usia 18 ia
memperoleh gelar MA. Kepandaiannya dalam Bahasa Lathin dan kesungguhannya di
bidang etika dan religius menyebabkan ia dijuluki “ the accusative case”. Ia
belajar di Paris, hampir seperiode dengan Ignatius Loyola(1491-1556). Ayahnya
menghendaki agar Calvin belajar hukum yang akan memberi jaminan hidup lebih
baik studi-studi persiapan teologi. Untuk itu ia pindah dari Paris ke Orleans
dan kemudian ke Bourges. Gelar sarjana hukum diperolehnya pada 1532. Di Bourges
Calvin berkesempatan mengembangkan minatnya pada sastra klasik, terutama bahasa
Yunani. 4 April 1532 Calvin menerbitkan karya pertamanya, sebuah komentar. De
clementia Seneca. Meski tidak mendapat sambutan yang cukup berarti, namun
publikasi ini berhasil membuktikan kemampuan linguistik dan pengetahuan yang
mendalam tentang kesusatraan klasik.
Tidak
seperti para reformis generasi pertama, Calvin bukan biarawan dan imam. Bouwsma
menyatakan bahwa Calvin menjadi seorang pengkhotbah dan pastor bukan karena
tahbisan, melainkan karena tindakan konsili kota Geneva. Calvin tidak pernah
memperoleh pelatihan formal dalam teologi; akan tetapi ia teolog
otodidak(calvin pernah menjadi mahasiswa
falkutas teologi dan mempelajari teologi
formal, sebelum studi hukum, meski iai hanya mempelajari tahap-tahap awal dan
dasar teologi). Berbeda dengan para Reformis generasi pertama yang
berkebangsaan Jerman dan Swiss, Calvin adalah seorang Prancis. Negri ini
menganut paham monarki absolut. Para reformis di Prancis hidup” tanpa perisai”,
tidak demikian halnya di Jerman yang dilindungi dan didukung oleh sejumlah
pangeran dan penguasa setempat. Singkatnya, reformasi di Perancis menciptakan
sebuah gereja yang disirami oleh darah para martirnya yang menentang kekuasaan
ototritas sentral yang membenarkan diri dengan istilah un roi, une loi, une
foi(satu saja,satu hukum, satu iman). Pada akhir 1533 Calvin mulai menyatakan
dirinya sebagai penganut Protestan.
Kemudian
Calvin menetap di Basel, karena sejak januari 1535 Prancis mengintensifkan
usaha penganiayaan terhadap orang-orang protestan. Dikota ini ia menerbitkan
karya utamanya, christianae Religionis Institutio(1536) yang membuat dirinya”
batrik kedua reformasi”. Buku yang akan diperlebar hingga tahun 1559 ini selain
tebalnya 1500 halaman, juga diberi prakata oleh Fransiskus I, Raja Prancis.
Dalam karyanya ini Calvin menuduh gereja Katolik Roma memperbudak nuraninya
dibawa hukum yang menyebabkan kekhawatiran dan teror serta ketidakpastian keselamatan.
Dalam
edisi pertama Christianae Religions Institutio Calvin, seperti halnya Luther
sebelum 1525, mengajarkan bahwa gereja pada hakikatnya adalah invisble. Gereja
itu orang-orang terpilih bersama-sama, yang namanya hanya dikenali Allah
semata-mata. Didalam keadaan seperti itu gereja di atas muka bumi ini terlihat
dan tampak. Setia gereja dengan demikian semata-mata bersifat lokal.
Gereja-gereja lokal yang berbeda-beda itu biasanya sama diantara mereka.
Organisasinya juga dibuat secara kontingen. Para fungsionaris seperti pastor
bukanlah “delegatus”, bukan wakil, bukan pula utusan para beriman, yang
memberikan padanya imamat umum.
Pada
mulanya Institutio dimaksudkan sebagai katekismus atau buku pelajaran agama.
Sudah menjadi rahasia umum, Luther sangat berpengaruh pada Institutio.
Selebihnya, Calvin sendiri mengakui Luther sebagai bapak gerakan dengan mana ia
sekarang mengindetikkan diri dan mengagumi pandangan-pandangan teologis Luther.
Barangkali tidak berlebihan mengatakan, bahwa Calvin adalah murid Luther yang
terbaik dan terbesar.
Pada
pokoknya Instituti(edisi I) terdiri atas 6 bab: perihal hukum, syahadat, doa
Tuhan, sakramen baptisdan perjamuan Tuhan, argumen-argumen melawan
sakramen-sakramen(gereja) Roma, pembicaraan tentang kemerdekaan kristiani.
Calvin
menulis(1543) sebuah karya polemik, dimana ia meminta secara ironis
menginventarisasi semua tubuhorang suci dan relikui mereka yang ada di
Italia,Prancis,Jerman dan Spanyol serta kerajaan-kerajaan lain. Ia sendiri
khawatir pekuburan dirinya akan menjadi tujuan ziarah. Ia meminta jasadnya
nanti ditaruh didalam peti, diantar kemakam tanpa didahului dengan
sambutan-sambutan dan tanpa diiringi nyanyian. Harap tempat dimana dia
dikebumikan tidak dipasang tanda pengenal apapun.
Sebagai
reformis paling penting diluar Jerman, bahkan mungkin ia adalah Reformis yang
paling penting dari semua Reformis Calvin menetap di Geneva sampi ajal
merangkulnya, 27 September 1564. Geneva boleh dikatakan sebagai pusat gerakan
Calvinis. Disanalah Calvin berhasil mewujudkan sebuah pemerintahan teokratis
yang diinspirasikan oleh Reformasi,sangat keras dalam tataran hidup religius
dan moral. Di Geneva pun ia ia melaksanakan prinsip-prinsip keagamaan secara
organisatoris dan defenitif.
1. Calvinisme
Dalam
historigrafi perihal Luther banyak aspek positif dikemukakan, demikian pula
banyak aspek kehidupan keagamaan Calvin yang direhabilitasi, terutama dalam
hisrografi yang aktual. Reformator dari Geneva ini dikenaal terutama karena
karya kerasulannya yang tidk mengenal letih. Ia bukan orang yang dingin dan
tidak peka terhadap persahabatan, melainkan seorang sahabat yang setia dan
penuh perasaan, kaya akan minat dan cita-cita. Calvin juga memiliki kemampuan
untuk menghadapi dan memecahkan pelbagai kasus. Terhadap manusia Calvin lebih pesimis daripada Luther, Calvin lebih
optimis dihadapan Allah. Jika teks utama bagi Luther adalah matius 9:2” dosamu
sudah diampunni”, bagi Calvin sebaliknya roma 8:31” jika Allah dipihak kita,
sipakah yang akan melawan kita?”
Calvin
yakin bahwa Allah bersama-sama dengan
dirinya dalam usaha membangun kota orang-orang terpilih diatas bumi, yakni
Geneva Israelbaru dari Allah. R.H Bainton menulis,” bagi calvin ajaran tenang keterpilihan adalah suatu
konfrontasi yang membebaskan manusia dan semua kecemasan dan kekhawatiran; dan
daripadanya orang dapat menyucikan setiap pelayanan kepada Allah yang
mahakuasa. Calvinisme oleh karena itu mengajarkan suatu jenis kepahlawanan’.
Jadi tujuan daripada calvinis adalah menegakkkan suatu teokrasi, yakni suatu
republik para kudus, suatu kolektivitas dimana setiap anggota tidak memiliki
pikiran lain kecuali kemuliaan Allah semata-mata. Bukan suatu kolektivitas yang
diperintahkan oleh gereja atau klerus; bukan pula suatu jenis alkiabiah dalam
arti sempit, karena Allah itu lebih besar dari setiap buku, juga jika buku itu
berisi firman-Nya. Kolektivitas orang kudus, yang harus terbedakan dari Gereja
dan Negara yang merupakan idealitas abad pertengahan dan Luther, suatu
kolektivitas terpilih(yang calvin coba wujudkan
di geneva). Di dalam kolektivitas itu klerus dan awam, dewan penasihat
dan pelayan Tuhan semua diilhami oleh roh ilahi.
Menonjol
pada diri Cavin cita rasa keagamaan yang mendalam. Tumbuh padanya sikap mau
mencari Tuhan yang mewahyukan Dirinya sekaligus yang tersembunyi, Allah dalam
kitab suci dan allah para nabi. Aspirasinya demi kemuliaan Allah yang lebih
besar mendekatkannya secara khusus pada Ignatius Loyola. Ia mendesak pada
dirinya sendiri agar siap menerima otentisitas yang absolut dalam perjumpaan
dengan Tuhan yang juga diaami oleh para mistikus cistersiensis atau Carmelit,
dalam malam rohani, yang dikidungkan oleh Yohanes Salib sebagai tahap yang
perlu dalam menyongsong Allah.
Semua
hal ini tidak perlu menghilangkan keterbatasn Calvin, yang melihat dalam Allah
terutama Tuhan yang mahakuasa, penentu
tujuan hidup manusia, yang lebih daripada sekedar Bapadan Penyelamat. Tingkat
dan kesadaran moralnya cenderung keras dan sering kaku. Ketegasannya itu
acapkali tampak dalam organisasi politis, yang didasarkan pada subordinasi Negara pada gereja dan
pembenarn dan penggunaan paksaan. Kecemasan terhadap dominasi para pangeran
dari Savoia,dan gelombang ribuan massa yang mengalir meninggalkan Swiss, serta
kehendak teguh Calvin menerangkan keberhasilan diktatura Gereja Calvinis di
Geneva. Begitulah Calvin memberikan pada Gereja di Geneva sebuah struktur yang
kokoh kuat, yang diyakininya terdapat dalam kisah para rasul dan surat-surat
st. Paulus. Gereja ini tidak lagi merupakan komunitas yang bebas, melainkan
sebuah organisasi yang wajib. Dalam organisasi inilah semua penduduk kota harus
mengintegrasikan diri. Mungkinkah Calvin sampi pada pandangan bahwa di luar
Gereja ang tampak tidak terdapat keselamatan abadi?
Jasa
utama Calvin tidak terdiri ata orisinalitas konsep-konsep pemikiran
teologisnya, melainkan dalam sistematisasi organis dari tesis-tesis reformator
sebelumnya, yang seringkali tidak teratur, bahkan berlawanan. Oleh karena itu,
Chritianae Religionis Institutio merupakan summa Theologiae bagi para Calvinis.
Beberapa simpul dari pandangan Calvin dapat dikemukakan berikut ini:
v Calvin
menyangkal kehadiran nyata(presentia realis) dan hanya mengakui presensi
virtual, sejauh Kristus melalui sakramen menyatakan rahmat-Nya kepada manusia.
v Melaui
kehendak-Nya Allah samasekali tidak tergantung pada jasa manusia atau dos-dosa
manusia. Ia memilih beberapa orang untuk hidup dalam api yang kekal.
v Karya-karya
baik(secara moral ) manusia tidak berpengaruh pada keselamatan. Kendati
demikian manusia beriman tetap berkewajiban melakukan karya-karya itu demi
memuliakan Allah.
v Perlindungan
ilahi merangkum semua aktivitas temporal
orang-orang terpilih. Kepastian ini mendorong orang Calvinis untuk menghadapi
dengan penuh keberanian segala bentuk resiko yang terkandung dalam
komersialitas. Gereja tidak memiliki suatu kekuasaan temporal yang langsung,
tetapi otoritas sipil mereduksi diri sebagai satu instrumen dalam tangan-tangan
gereja.
2. Para
Fungsionaris gereja calvinis
Selama
20 tahun Genevamenyeragamkan diri dengan
Aturan Kegerejaan yang diredaksikan oleh
Calvin. Ia mnenetapkan beberapa fungsionaris dan tugas-tugas mereka. Contohnya
: diakon- diakon, yang melaksanakan tugas- tugas yang bercorak karitatif, yang
didasarkan pada kisah para rasul bab VI. Tegasnya mereka membagi-bagikan kepada
orang miskin persembahan jemaat beriman, yakni buah hasil kurban satu-satunya
orang Kristen Calvinis. Selain tugas yang bercorak alkitbiah itu, mereka juga
mengatur,memeriksa, membukukan harta kekayaan Gereja;serta mengunjungi
orang-orang miskin dan sakit. Untuk itu para perempuan selain dapat mengambil
bagian dalam tugas-tugas tersebut, juga dapat menjadi diakon. Dalam kegiatan
liturgi para diakon membantu para pastor dalam kurban ekaristi dan membwakan
piala untuk para jemaat beriman pada saat komuni. Komunitas(paroki) berhak
untuk menentukan diakon-diakon mereka.
Para dokter yang menangani tugas
pengajaran dan pendidikan, sebagaimana Kristus Yesus, pengajar pendidik sejati. Tidak serba jelas perbedaannya dengan
para pastor yang bertugas memaklumkan firman Allah. Akan tetapi, kiranya
perbedaan itu dimata Calvin sangat
jelas. Dalam praktiknya, para dokter adalah para ekseget(penafsir-penafsir
alkitab). Mereka itu mengetahui dengan baik sekali jaran gereja. Mereka juga
harus mengawasi pelaksanaan doktrin itu agar tetap terjaga utuh, murni(puritan)
, dan tidak tercemar oleh pelbagai bentuk penyelewengan. Mengajarkan ilmu
teologi untuk mempersiapkan pastor-pastor baru merupakan tugas mereka yang
lain. Pengajaran bahasa-bahasa alkitab juga menjadi tanggungjawab mereka. Untuk
itulah para doktor menjadi tenaga pngajar di sekolah-sekolah menengah dan
akademi di Geneva.
Para penatua, yag menjaga moralitas
publik dan pribadi. Dengan kata lain, tugas utama mereka adalah mengawasi
tertib hidup dan perilaku jemaat beriman, tegasnya mempertahankan displin
sebagaimana tugas para presbteroi yang sudah ditegaskan dalam perjanjian baru.
Kelompok tetua terdiri atas 12 orang. Mereka wajib mengamati setiap anggota jemaat. Semua
keluarga-keluarga kristen Calvinis dikunjungi oleh para tetua satu-dua
kali dalam setahun. Mereka itu melhat
apakah keluarga-keluarga itu mengkritik Calvin, lantaran sikap dan pandangannya
yang ekstra keras ;juga apakah anggota-anggotakeluarga itu melakukan dosa(besar
atau kecil),berjoget ria(dansa-dansi), main kartu, serta mengontrol buku-buku
mana saja yang dibaca di dalam keluarga, dan sebagainya.
Para pastor, yang melayani
sakramen-sakramen Gereja. Para pastor(pelayan, uskup imam), penerus para rasul
bukan pengganti. Untuk menjadi pastor dibutuhkan semacam panggilan bathin,
panggilan eksternal yang dinyatakan oleh
komunitas dalam wujud bimbingan dari pastor dan tetua. Dalam konteks ini,
Calvin membuang tradisi penumpangan tangan untuk pentahbisan. Maka dalam
Calvinisme juga tidak dikenal sakramen tahbisan.Tugas para pastor adalah memaklumkan sabda Tuhan dan pelayanan sakramen-sakramen.
Para pastor bersama-sama memperlajari Alkitab seminggu sekali; pada saat itu
juga dibahas masalah-masalah penggembalaan jemaat. Empat kali dalam setahun
dewan pastores berkumpul untuk mengadakan semacam retret, meninjau kembali
kebijakan bersama serta melakukan correptio fraternaberikut penetapan
penintensi yang keras. Setahun sekali
dewan penasihat sipil dan paroki mengadakan kunjungan-kunjungan ke
paroki-paroki. Dewan pastores bertugas menominasi pastor-pastor baru, namun dalam praktiknya dewan pastores
menominasi dan komunitas(paroki)
merestuinya.
Pastor dan penatua berkumpul setiap
minggu dalam consistorium(dewan),
mendengarkan pengaduan, memaklumkan hukuman(penjara, ekskomunikasi, hukuman
mati ). Demi cinta atau karena terpaksa, semua harus menjadi bijaksana;
bacaan-bacaan, makanan, permainan, nyanyian,semua dikonrtrol oleh consistorium.
Dengan kata lain, consistorium melakukan campur tangan terhadap urusan
orang-perorangan . consistorium terdiri atas 12 penatua dan pastor. Mereka ini
adalah dewan gerejawi, yang disebut juga
presbyterium atau senatus Gereja-gereja setempat. Setiap hari kamis mereka
mengadakan rapat. Consistorium kemudian menjadi sangat berkuasa; menetapkan
displin moral, menentang pola hidup luks(mewah), memusuhi mereka yang menentang
doktrin Calvin(termasuk tntang predestinasi). Kata lainnnya, consistorium
menjadi organ sangat penting dalam
seluruh tata kehidupan jemaat Calvinis.
Dalam empat tahun(1542-1546) ada 70
orang diasingkan, 67 dihukum mati
700-800 dijebloskan dalam penjara. Tentu saja, , tidak semua hukuman mati itu
disebabkan ole alasan-alasan keagamaan, tetapi dapat juag karena masalah-masalah
sipil. Kendati demikian semua hal itu tergantung Geneva;apakah dewan dapat
membedakan dengan baik antara masalah-masalah sipil dan masalah keagamaan.
Kasus hukuman mati-bakar, Miguel Servet yang menerbitkan Christinisme
Restituito, Vienne 1553, disebut secara anonim dan hanya dengan inisial M.S.V(
maksudnya Miguel Servet de Villanueva in Aragon). Calvin menerima dalam gereja
dengan menyangkal dogma tentang Trinitas. Dalam buku-nya M.S.V.
menerangkan secara panjang lebar
perputaran(sirkulasi) dara diparu-paru. Tetapi ia juga menuduh Gereja Roma dan
para Reformator abad XVI telah memasulkan doktrin Kristen awal. Ia kemudian
merekonstruksi ajarannya dengan bertolak dari pemahamannya tentang(pemikiran)
Plato dan Plotinus.
Lebih
lanjut, Miguel Servet mempertahankan(praktik) lituri dan pandangan tentang api
penyucin, disampig mendukung praktik baptis dewasa, menyangkal dosaasl dan
doktrin tentang Trinitas. Ia melarikan
diri dari tahanan Inkuisisi di Lyon untuk kemudian tinggal di Geneva, kendti
tidak dengan senang hati. Begitu ia dikenal kembali, ia ditangkap, diproses
secara hukum dan dihukum mati bakar, lantaran ia ngotot berpegang teguh pada
gagasan-gagasan dan keyakinannya.
Kasus M.servet ini menimbulkan
polemik, jug dikalangan kaum protestan-Calvinis. Mereka ini tidak menyukai gagasan dan cara yang ditempuh oleh
Calvin. Sebastian castellio campur tangan dalam masalah in dengan karyanya.
3. Ciri-ciri
hakiki teologi calvinis
Sebagian terbesar ajaran Calvin dapat ditemukan
dalam christianae religionis institutio(calvin 1987). Buku ini diterbitkan
dalam dua bahasa: ltin dan perancis. Calvin sendiri menulis sejumlah karya
tentang tafsir kitb suci dan bersifat polemik, terutama melawan anabaptis,
anti-trinitas dan Para Lutheran yang kolot serta kaku, seperti misalnya
westphal, hebhus. Berikut ini hanya akan ditampilkan sejumlah pokok:
Sumber satu-satunya dan terlengkap dari iman
kepercayaan Kristen adalah kitab suci. Bagi Calvin, tidak ada sumber
perlengkapan iman, seperti misalnya tradisi.hal ini tidak perlu berarti bahwa
Calvin mengesampingkan kesaksian tradisi yang meneguhkan eksegese. Contohnya;
sejumlah konsili suci, para bapak gereja dari timur dan barat, kenyataan
strukturaldari gereja kristen kno. Jaminan dan nilai kitab suci didasarkan pada
hubungannya dengan Roh Kudus, disamping tindakan Roh Kudus itu sendiri atas
masig-masing orang beriman tanpa peranana pengantara Gereja. Dalam
kenyataannya, Roh Kudus bertindak atas para pengarang suci, yang jelas-jelas
ditopang oleh Roh Kudus. Perkataan mereka adalah”the oracle of God”. Hal ini
memberikan kesan bahwa Calvin mengakui adanya ilham atau inspirasi verbal.
Roh yang sama juga mengaktualkan kesaksian alkitab
perihal kristus, sehingga para pembacanya memahami. Artinya, membuat mereka
semakin beriman. Kepengantaraan gereja yang menjamin bahwa alkitab, adalah
karya dan tulisan suci, menyeluruh tidak
diterima oleh calvin. Karena tidak ada sesuatu pun yang menjamin kepengentaraan gereja dn kesaksian gereja itu
semata-mata insani. Kitab suci sendiri memiliki kemampuan untuk menunjukkan
dirinya sendiri yakni, para jemaat beriman mengenal melalui tindakan roh yang
berkarya. Kitab suci menjdi istilah perbandingan untuk membuktikan otentisitas
kristen dari dektrit-dektrit konsili gereja kuno, bapak-bapak gereja,
sekurang-kurangnya sampai dengan Santo Augustinus. Akibatnya, Calvin mengkritik
anabaptis yang dicampuradukkan dengan spiritualistis, yang menegaskan kembali
bahwa diri mereka adalah revelasi-revelasi baru Roh Kudus.
Selain itu, Calvin juga mengkritik gereja kepauan
yang menempatkan hubungan roh kudus dengan magisterium(kuasa mengajar). Calvin
pun memiliki eksegese yang kurang bebas ketimbang Luther, kendati tidak
sepenuhnya harfiah. Ajdi ada unsur eksegese subjektif, mengingat Calvin sendiri
mengedepankan eksegesenya sendiri.
Visi teologis yang muncul dari pandangan tersebut
dipusatkan pada gagasan: kedaulatan yng mutlak dan bebas serta kemuliaan Allah
Allah Pencipta dan Penyelenggara. Tujuan penciptaan adalah pengenalan dan
penyembahan dari pihak manusia kepada Allah. Tujuan penebusan adalah membangun
kembali gambaran Allah dalam manusia yang dirusak oleh dosa dengan model
Kristus, gambar sempurna Bapa. Hanya melalui pemulihan kembali seperti itu
manusia dapat mengenal dn menyembah Allah secara sempurna serta mengabdi pada
kemulian-Nya. Tujuan dari semua ciptaan dan penebusan adalah pemuliaan diri
Allah, oleh karena itu dapat direncanakan dan diprogramkan secara tepat ab
aeterno(sejak kekal) oleh Allah demi tercapainya tujuan tersebut. Tidak
seorangpun luput daripadanya. Semua sudah diatur sedemikian rupa sehinngga akan
terwujud sepenuhnya di bawah pimpinan kehendak Allah yang berdaulat. Pendeknya
, semua mengabdi pada perwujudn tujuan tersebut(termasuk di dalamnya kehendak
buruk pihak manusia dan iblis). Semua sudah dimaklumkan oleh Allah.
Program kedaulatan dan kemuliaan Allah terwujud
dalam gereja melalui tindakan putra Allah. Sebab selain Ia adalah sabda
pencipta alam semesta dan manusia; Dia juga melakukan rencana Allah dengan
memimpin dunia serta semesta ciptaan.
Kesimpulannya: siapa yang mengenal Kristus berarti
mengenal rencana dan kehendak Allah sera
tahu bagaimana harus mewujudkannya. Kedaulatan mutlak dan bebas dari pihak
Allah ini tidak dikondisikan oleh apa dan siapapun juga. Allah mewujudkan
rencana keselamatan-Nya bukan hanya dengan menciptakan gereja, tetapi di dalam
gereja sendiri sambil menyelematkan orang-perorang dengan memilih secara bebas,
dan dengan pencurahan rahmat.
Allah memilih(sebelum penciptaan dunia) bangsa-Nya,
yakni masing-masing orang beriman yang ingin selamatdari kumpulam masa pendosa.
Allah menghadirkan panggilan umum yang tidak termasuk keselamatan. Pilihan ini
atau praedestintio tidak dibuat qualitate virtutum dari masing-masing pribadi,
juga bukan ex fide praevisa, melainkan pemaklukan surgawi yang dilakukan secara
bebas dan berasal dari Allah semata-mata. Allah sajalah yang dengan dektrit
abadi memutuskan siapakah yang memperoleh
keselamatan dan siapakah yang ditentukan untuk tidak selamat. Ketentuan
ini hanya diketahui oleh Allah. Namun demikian, masing-masig pribadi dapat
yakin akan keselamatan ilahi bagi dirinya, jika ia didapatkan bersatu dengan
Kristus.
Kedaulatan bebas Allah juga berkaitn dengan paham
tentang eklesiologi. Bagi Calvin, gereja adalah universus electorum
numerus(segenap orang terpilih) para malaikat, orang hidup dan mati, dimanapun
ditemukan . gereja itu meliputi sejumlah “orang” yang terpilih, tidak pandang
bulu asal-usulnya. Mereka inidipilih di dlam Kristus;dan oleh karena itu
dimasukkan didalam Kristus supaya terbentuklah semuanya menjadi satu tubuh
dengan-Nya. Kristuslah satu-satunya kepala gerja. Gereja itu tidak dapat
dilihat(invisble). Jadi, gereja ini pasti tidak sebagaimana dipresentasikan
oleh institusi gereja katolik Roma.
Gereja yang terdiri atas orang-orang pilihan itu menjadi terlihat lantaran
notae. Maksudnya: pewartaan kabar genbira ;pelaksanaan sakramen-sakramen
seturut penetapan Kristus. Ketaatan pada firman Allah, yakni tata tertib,
sesuatu yang khas dalam gereja Calvinis. Notae gereja itu terungkap melalui
para pelayan(diakon, pastor, doktor, penatua) terutama tiga terakhir. Ketiganya
tidak lebih daripada organon Allah. Artinya, lembaga ilahi, sarana tindakan
penyelamatan dari pihak Allah. Oleh karena
itu, mereka adalah pelayan manusia, terutama karena dilakukan oleh
manusia dan di antara manusia. Jadi, gereja adalah tempat, dimana Allah
bertindak secara berdaulat.
[7]. Boehlke, Robert R. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek
Pendidikan Agama Kristen I. 1997. p 309
Komentar
Posting Komentar